Hampir Mirip, Begini Perbedaan Gejala Virus Corona dengan Batuk dan Pilek Biasa

Ilustrasi (Istimewa)

 Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr Ngabila Salama menjelaskan, gejala virus corona memang mirip dengan penyakit batuk dan pilek. 

"Yang ditanya pertama bukan batuk dan pilek, tapi apakah dalam 14 hari terakhir ke Tiongkok, termasuk Taipei," kata Ngabila seperti diktip dari Antaranews, Jumat (7/2/2020).

Waspadalah dan hubungi petugas kesehatan bila muncul gejala demam dan pilek setelah bepergian ke Tiongkok. Ngabila mengatakan, virus corona bisa turun ke paru-paru dan menyebabkan radang paru. Bila itu terjadi, pasien akan dimasukkan ke rumah sakit rujukan dan diperiksa apakah ia terinfeksi virus.

"Kasus (orang) yang diawasi di rumah sakit, diisolasi, ada, tapi sampai sekarang (di Indonesia) tidak ada yang positif novel coronavirus," kata dia.

Hingga saat ini, para peneliti masih mencari tahu tentang penyebab pasti virus corona hingga obatnya

"Virus, penyakit yang (mengatasinya) kita cukup minum, (misalnya) obat pereda demam, pereda gejala lain, itu sudah cukup. Tapi karena ini virus baru yang ibaratnya 'kebandelan' virusnya belum tahu sejauh mana, tetap harus waspada," tutur Ngabila.

Saat ini orang-orang yang diawasi di rumah sakit dan puskesmas terkait risiko terinfeksi virus corona diberi obat batuk dan pilek sambil terus dipantau keadaannya. Bila memburuk dan menunjukkan tanda pneumonia, pasien akan dirujuk lebih lanjut ke rumah sakit.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan status darurat dunia atas wabah virus corona pada akhir Januari 2020. Ngabila mengatakan status darurat ini disebabkan oleh penyebaran dan jumlah kasus yang meningkat cepat.

Meski demikian, tingkat kematiannya termasuk rendah dibandingkan Severe acute respiratory syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS CoV).

"Angka kematiannya 2-3%. SARS pada 2002 angka kematiannya 10%, MERS COV 35 persen."

Virus baru ini membuat masyarakat resah karena menyebar ke banyak negara dalam waktu singkat, ditambah lagi informasi simpang siur menyebar lewat media sosial.

"Kita perlu memilih kanal informasi yang valid untuk masyarakat. Jika tidak yakin dengan validitas harap konfirmasi ke tim ahli," imbau dia.

Komentar

Postingan Populer